Kamis, 08 Desember 2011

Tono CS

siip :D :D

Sejarah Angkringan

 Posted by By InfoJogja at 17 August, at 14 : 39 PM 
Angkringan sangat favorit dan menjadi andalan bagi mahasiswa di Jogjakarta. Ketika lapar menyergap tapi tak punya banyak uang, maka angkringanlah salah satu alternatifnya, bagaimana tidak, angkringan menyediakan berbagai makanan dan minuman khas jawa seperti sego sambel, sate usus, tempe bakar dan sebagainya dengan harga yang relatif murah.
Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta.

Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.
Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.
Kini angkringan sudah menjamur di kota-kota besar maupun kecil di seantero nusantara. Bahkan kabarnya ada lho angkringan yang menerapkan sistem penjualanya dengan franchise atau waralaba.Dan sekedar informasi, berikut adalah rekomendasi angkringan yang mempunyai makanan yang enak dan muantap di sekitaran jogja
* Angkringan Kali Code
* Angkringan PDAM jogja Sleman
* Angkringan Kridosono
* Angkringan stadion Mandala
* Angkringan pasar sore Malioboro
* Angkringan tugu jogja
* Angkringan Pak min depan gor UNY (siang)
* Angkringan Mc Nduts depan gor UNY (malam)

sumber : http://www.metrogaya.com/home/sejarah-hari-ini/sejarah-angkringan
Dimanakah angkringan favoritmu?

Gua Cerme Imogiri Bantul Yogyakarta


Posted by By InfoJogja at 11 August, at 14 : 23 PM 
Gua Cerme Imogiri Bantul YogyakartaGua Cerme adalah gua alam dan gua sejarah yang terletak di Desa Srunggo di Kecamatan Imogiri, Bantul sekitar 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Gua ini dulu digunakan untuk tempat berkumpul bagi pengkhotbah Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Wali Songo. Wali Songo adalah nama yang diberikan kepada 9 orang pilihan di abad ke-15 dan 16 yang diberikan wahyu untuk menyebarkan agama Islam di lingkungan mereka, terutama di daerah Jawa.
Dalam salah satu ekspedisi mereka ke berbagai daerah untuk menyebarkan agama Islam, mereka menemukan sebuah gua yang digunakan sebagai lokasi pertemuan untuk membahas rencana mereka dalam memperluas agama Islam, di antaranya adalah rencana mendirikan Masjid Agung Demak, sebuah kota di bagian utara Provinsi Jawa Tengah. Gua ini dikenal sebagai Gua Cerme. Cerme sendiri diambil dari kata “Ceramah”.
Saat ini, Gua Cerme dikenal sebagai situs wisata petualangan, di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk mencapai pintu masuk gua, kita harus mendaki bukit dengan 759 tangga. Fitur Terbesar dan daya tarik utama dari Gua Cerme adalah stalaktit dan stalagmit yang indah menggantung hampir di seluruh rute gua, panjang gua sekitar 1,2 km. Daya tarik lain dari gua ini adalah arus bawah tanah yang mengalir hampir non-stop. Kedalaman sungai dapat berbeda dari 10 cm sampai 1,2 meter tingginya, tergantung pada curah hujan dan kelembaban.
Stalaktit dan stalagmit di gua memiliki bentuk yang berbeda atara satu dan lainnya. Antara lain berbentuk gorden (berbentuk tirai batu), membentuk Perisai (berbentuk perisai batu) dan bentuk Canopy (berbentuk kubah batu).

INFO JOGJA ^^

http://infojogjakarta.com/

Selasa, 06 Desember 2011

http://www.detikhealth.com/read/2011/12/07/110636/1784866/766/tanda-tanda-orang-harus-pakai-kacamata
http://www.detikhealth.com/read/2011/12/06/144741/1784067/1299/orang-jepang-pintar-karena-ibu-hamilnya-diberi-susu-gratis?l1102755

Musyawarah Burung: Perjalanan Menyatu Dengan Tuhan

fariduddin attar musyawarah burungMusyawarah Burung (Mantiqu’t-Thair) merupakan karya sastra penyair sufi terkenal Faridu’Din Attar yang berisi ajaran-ajaran sufistik, bahkan dalam penggunaan kata-katanya sarat akan istilah atau metafor-metafor yang biasa digunakan oleh para sufi dalam karya sastra. Buku ini terdiri dari tiga Bab, yaitu: Madah Do’a, (yang berisi doa dan ungkapan-ungkapan pembuka dari Faridu ‘Din Attar), Burung burung berkumpul, (menggambarkan bermacam-macam burung yang akan turut serta dalam musyawarah), dan Musyawarah burung (tentang proses pencarian sang Raja).
Review Danarto atas buku “Musyawarah Burung” di Majalah Tempo berikut cukup menarik untuk disimak:
Menjadi sufi karena seorang pengemis, attar kemudian sejajar dengan arabi dan rumi. hanya dengan cinta, kata attar, perjalanan menuju penyatuan dengan allah dapat ditempuh.
MAKA, berkumpullah segala macam burung, baik yang dikenal maupun tldak, di dunia ini. Burung-burung itu – menyelenggarakan musyawarah. Makhluk yang bisa terbang ini sadar bahwa ternyata kerajaan burung tak memiliki raja. Pada hal, menurut keyakinan mereka, tidak ada negeri di dunia ini yang tak beraja. Dan tak ada suatu negeri yang mampu menyelenggarakan pemerintahannya dengan baik tanpa raja.
Keadaan kerajaan burung yang demikian tak boleh dibiarkan terus. Lalu tampillah Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman, memimpin mereka. “Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan,” kata Hudhud di tengah majelis. Ia bercerita bahwa sebenarnya mereka mempunyai raja sejati, Simurgh namanya, yang tinggal di Pegunungan Kaukasus. Ia raja segala burung.
Raja burung yang perkasa ini dekat dengan mereka. Tapi mereka jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di muka Simurgh tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan. Dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Simurh raja berkekuasaan mutlak di sebentang semesta. Ia bermandikan kesempurnaan, keagungan, dan kesucian.
Ia tak membukakan diri sepenuhnya meski di tempat persemayamannya sendiri. Dan tentang ini tak ada pengetahuan dan kecerdasan yang dapat meraihnya.
Uraian Hudhud memikat burung-burung itu. Dengan bersemangat, musyawarah itu membicarakan keagungan raja mereka. Lalu mereka tak sabar lagi, ingin segera berangkat bersama-sama mencarinya.
Tapi ketika menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan nanti, mereka jadi ragu-ragu. Lalu mereka keberatan untuk berangkat dengan dalihnya masing-masing. Bulbul, misalnya, tak mungkin meninggalkan tempat karena begitu besar hasratnya untuk menyebarkan senandung cinta. Merak enggan meninggalkan kemewahannya. Rajawali tidak mau berpisah dengan para raja di dalam istana.
Namun, Hudhud mampu meyakinkan mereka. Perjalanan menuju Simurgh satusatunya tujuan dalam hidup, meskipun amat sukar ditempuh. Dan hanya dengan cinta segala kesukaran dapat diatasi. Mereka pun berangkat.
Akhirnya, tinggal 30 ekor saja yang sampai di balairung Simurgh. Dan ketika mereka bertatap muka dengan Raja, mereka tak berbeda dengan-Nya. Tiga puluh (si-murgh) burung adalah Simurgh, dan Simurgh adalah tiga puluh burung itu sendiri.
Puisi alegoris Faridu’d-Din Attar (1110-1230), Musyaarah Burung, merupakan salah satu monumen kesusastraan sufi di samping Masnawi karya Jalaluddin Rumi (1217-1273). Diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds terjemahan C.S. Nott dari Mantiqu’t Thair.
Attar – yang waktu mudanya suka mengembara ke Mesir, Syria, Arab Saudi, India, dan Asia Tengah lahir di Nishapur (di Iran sekarang), sekota dengan Pujangga Omar Khayyam. Ditilik dari namanya, Attar, mistikus besar ini dianggap turun-temurun bergerak dalam usaha apotek, kedokteran, dan wangi-wangian.
Awal kesufian Attar, menurut cerita, yaitu ketika pada suatu hari di depan kedai parfumnya ia mengusir seseorang yang disangkanya pengemis. Ternyata, pengemls itu seorang sufi. Ia menjawab bahwa tak ada kesukaran baginya untuk pergi. Sebaliknya bagi Attar. Apakah ia sanggup pergi begitu saja sambil meninggalkan kekayaannya yang berbau wangi itu? Sindiran sufi ini mengena di hati Attar. Ia serta-merta meninggalkan kekayaannya.
Faridu’d-Din Attar, yang tewas dipenggal prajurit Jenghis Khan ketika berusia 110 tahun, mendapat julukan Sauthus Salikin – cemeti orang yang mengerjakan suluk.
Musyawiarah Burung, yang ditulis Attar selama tiga tahun (1184-1187), didahului puji-pujian kepada Allah Yang Maha suci dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, serta ucapan selamat kepada burung-burung. Buku yang mirip dongeng ini menggambarkan pemikiran Attar – pelajaran sufisme dengan tujuh jenjang (maqam) Lembah Pencarian, Lembah Cinta Lembah Keinsafan, Lembah Kebebasan dan Kelepasan, Lembah Keesaan, Lembah Keheranan dan Kebingungan, serta Lembah Keterampasan dan Kematian. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr, dalam Sufi Essays, mencatat adanya 40 tingkatan berdasarkan ajaran sufisme Abu Sa’id ibn Abi’l-Khayr.
Kekatan Musyawarah Burung sebagai karya adalah kemampuan menghadirkan lambang secara sempurna. Burung sebagai lambang manusia sangat lentur bagi penggambaran roh yang setiap saat siap melesat dari dalam tubuh. Diselang-selingnya kisah para nabi dan para sufi, menghadirkan Musyawarah Burung sebagai karya yang “modern”, sejauh struktur dan bentuk penyuguhan menjadi bagian penting pengucapan seorang sastrawan.
Bagi seorang sufi, nomor satu adalah Allah. Nomor dua adalah Allah. Dan nomor tiga adalah Allah. Setiap jengkal perjalanan mistik seorang sufi adalah ujian. Dan ujian itu dapat berupa apa saja, termasuk keluarga dan harta. Karena tujuan hidup adalah untuk kembali menyatu dengan Allah, dengan sendirinya semuanya dikesampingkan.
Ibnu Arabi (1102-1240), yang mempunyai paham wihdatul wujud (kesatuan wujud), meyakini bahwa Wujud (Yang Ada) itu hanya Satu. Dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Jika ada perbedaan antara yang tampak dan tidak, maka perbedaan itu hanya rupa dan ragam dari hakikat Yang Esa.
Arabi menulis puisi: Hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba Demi syu’urku, siapakah yang mukallaf? Kalau engkau katakan Hamba, padahal ia Tuhan Atau engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintahkan? (terjemahan Hamka dalam Tasauf, Perkembangan, dan Pemurniannya)
Jalaluddin Rumi juga menulis puisi Orang Tuhan yang menerangkan pandangannya yang Serba-dalam-Illahi.
Bahwa “beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh” (Musyawarah Burung, halaman 60), mendudukkan Attar, Arabi, dan Rumi sebagai mata rantai yang berurutan. Dan sebagaimana para sufi lainnya, bagi Attar hanya cinta yang dapat menghantarkan kita ke haribaan Allah. Lalu penyatuan pun berlangsung: Hamba tak tahu apakah Engkau hamba atau hamba Engkau, hamba telah menjadi tiada dalam Engkau dan keduaan pun lenyaplah.
Danarto
* Sastrawan yang banyak mempelajari sufisme
Sumber Tulisan: majalah.tempointeraktif.com.
Keterangan Rinci:
Judul Buku: Musyawarah Burung
Judul Asli: Mantiqu’t-Thair 
Pengarang: Faridu’d-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott) oleh Hartojo Andangdjaja
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Jalan Kramat 11. No. 31 A, Jakarta Pusat
Anggota IKAPI
Cetakan pertama: 1983
Catatan: