Selasa, 06 Desember 2011

http://www.detikhealth.com/read/2011/12/07/110636/1784866/766/tanda-tanda-orang-harus-pakai-kacamata
http://www.detikhealth.com/read/2011/12/06/144741/1784067/1299/orang-jepang-pintar-karena-ibu-hamilnya-diberi-susu-gratis?l1102755

Musyawarah Burung: Perjalanan Menyatu Dengan Tuhan

fariduddin attar musyawarah burungMusyawarah Burung (Mantiqu’t-Thair) merupakan karya sastra penyair sufi terkenal Faridu’Din Attar yang berisi ajaran-ajaran sufistik, bahkan dalam penggunaan kata-katanya sarat akan istilah atau metafor-metafor yang biasa digunakan oleh para sufi dalam karya sastra. Buku ini terdiri dari tiga Bab, yaitu: Madah Do’a, (yang berisi doa dan ungkapan-ungkapan pembuka dari Faridu ‘Din Attar), Burung burung berkumpul, (menggambarkan bermacam-macam burung yang akan turut serta dalam musyawarah), dan Musyawarah burung (tentang proses pencarian sang Raja).
Review Danarto atas buku “Musyawarah Burung” di Majalah Tempo berikut cukup menarik untuk disimak:
Menjadi sufi karena seorang pengemis, attar kemudian sejajar dengan arabi dan rumi. hanya dengan cinta, kata attar, perjalanan menuju penyatuan dengan allah dapat ditempuh.
MAKA, berkumpullah segala macam burung, baik yang dikenal maupun tldak, di dunia ini. Burung-burung itu – menyelenggarakan musyawarah. Makhluk yang bisa terbang ini sadar bahwa ternyata kerajaan burung tak memiliki raja. Pada hal, menurut keyakinan mereka, tidak ada negeri di dunia ini yang tak beraja. Dan tak ada suatu negeri yang mampu menyelenggarakan pemerintahannya dengan baik tanpa raja.
Keadaan kerajaan burung yang demikian tak boleh dibiarkan terus. Lalu tampillah Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman, memimpin mereka. “Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan,” kata Hudhud di tengah majelis. Ia bercerita bahwa sebenarnya mereka mempunyai raja sejati, Simurgh namanya, yang tinggal di Pegunungan Kaukasus. Ia raja segala burung.
Raja burung yang perkasa ini dekat dengan mereka. Tapi mereka jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di muka Simurgh tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan. Dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Simurh raja berkekuasaan mutlak di sebentang semesta. Ia bermandikan kesempurnaan, keagungan, dan kesucian.
Ia tak membukakan diri sepenuhnya meski di tempat persemayamannya sendiri. Dan tentang ini tak ada pengetahuan dan kecerdasan yang dapat meraihnya.
Uraian Hudhud memikat burung-burung itu. Dengan bersemangat, musyawarah itu membicarakan keagungan raja mereka. Lalu mereka tak sabar lagi, ingin segera berangkat bersama-sama mencarinya.
Tapi ketika menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan nanti, mereka jadi ragu-ragu. Lalu mereka keberatan untuk berangkat dengan dalihnya masing-masing. Bulbul, misalnya, tak mungkin meninggalkan tempat karena begitu besar hasratnya untuk menyebarkan senandung cinta. Merak enggan meninggalkan kemewahannya. Rajawali tidak mau berpisah dengan para raja di dalam istana.
Namun, Hudhud mampu meyakinkan mereka. Perjalanan menuju Simurgh satusatunya tujuan dalam hidup, meskipun amat sukar ditempuh. Dan hanya dengan cinta segala kesukaran dapat diatasi. Mereka pun berangkat.
Akhirnya, tinggal 30 ekor saja yang sampai di balairung Simurgh. Dan ketika mereka bertatap muka dengan Raja, mereka tak berbeda dengan-Nya. Tiga puluh (si-murgh) burung adalah Simurgh, dan Simurgh adalah tiga puluh burung itu sendiri.
Puisi alegoris Faridu’d-Din Attar (1110-1230), Musyaarah Burung, merupakan salah satu monumen kesusastraan sufi di samping Masnawi karya Jalaluddin Rumi (1217-1273). Diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds terjemahan C.S. Nott dari Mantiqu’t Thair.
Attar – yang waktu mudanya suka mengembara ke Mesir, Syria, Arab Saudi, India, dan Asia Tengah lahir di Nishapur (di Iran sekarang), sekota dengan Pujangga Omar Khayyam. Ditilik dari namanya, Attar, mistikus besar ini dianggap turun-temurun bergerak dalam usaha apotek, kedokteran, dan wangi-wangian.
Awal kesufian Attar, menurut cerita, yaitu ketika pada suatu hari di depan kedai parfumnya ia mengusir seseorang yang disangkanya pengemis. Ternyata, pengemls itu seorang sufi. Ia menjawab bahwa tak ada kesukaran baginya untuk pergi. Sebaliknya bagi Attar. Apakah ia sanggup pergi begitu saja sambil meninggalkan kekayaannya yang berbau wangi itu? Sindiran sufi ini mengena di hati Attar. Ia serta-merta meninggalkan kekayaannya.
Faridu’d-Din Attar, yang tewas dipenggal prajurit Jenghis Khan ketika berusia 110 tahun, mendapat julukan Sauthus Salikin – cemeti orang yang mengerjakan suluk.
Musyawiarah Burung, yang ditulis Attar selama tiga tahun (1184-1187), didahului puji-pujian kepada Allah Yang Maha suci dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, serta ucapan selamat kepada burung-burung. Buku yang mirip dongeng ini menggambarkan pemikiran Attar – pelajaran sufisme dengan tujuh jenjang (maqam) Lembah Pencarian, Lembah Cinta Lembah Keinsafan, Lembah Kebebasan dan Kelepasan, Lembah Keesaan, Lembah Keheranan dan Kebingungan, serta Lembah Keterampasan dan Kematian. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr, dalam Sufi Essays, mencatat adanya 40 tingkatan berdasarkan ajaran sufisme Abu Sa’id ibn Abi’l-Khayr.
Kekatan Musyawarah Burung sebagai karya adalah kemampuan menghadirkan lambang secara sempurna. Burung sebagai lambang manusia sangat lentur bagi penggambaran roh yang setiap saat siap melesat dari dalam tubuh. Diselang-selingnya kisah para nabi dan para sufi, menghadirkan Musyawarah Burung sebagai karya yang “modern”, sejauh struktur dan bentuk penyuguhan menjadi bagian penting pengucapan seorang sastrawan.
Bagi seorang sufi, nomor satu adalah Allah. Nomor dua adalah Allah. Dan nomor tiga adalah Allah. Setiap jengkal perjalanan mistik seorang sufi adalah ujian. Dan ujian itu dapat berupa apa saja, termasuk keluarga dan harta. Karena tujuan hidup adalah untuk kembali menyatu dengan Allah, dengan sendirinya semuanya dikesampingkan.
Ibnu Arabi (1102-1240), yang mempunyai paham wihdatul wujud (kesatuan wujud), meyakini bahwa Wujud (Yang Ada) itu hanya Satu. Dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Jika ada perbedaan antara yang tampak dan tidak, maka perbedaan itu hanya rupa dan ragam dari hakikat Yang Esa.
Arabi menulis puisi: Hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba Demi syu’urku, siapakah yang mukallaf? Kalau engkau katakan Hamba, padahal ia Tuhan Atau engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintahkan? (terjemahan Hamka dalam Tasauf, Perkembangan, dan Pemurniannya)
Jalaluddin Rumi juga menulis puisi Orang Tuhan yang menerangkan pandangannya yang Serba-dalam-Illahi.
Bahwa “beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh” (Musyawarah Burung, halaman 60), mendudukkan Attar, Arabi, dan Rumi sebagai mata rantai yang berurutan. Dan sebagaimana para sufi lainnya, bagi Attar hanya cinta yang dapat menghantarkan kita ke haribaan Allah. Lalu penyatuan pun berlangsung: Hamba tak tahu apakah Engkau hamba atau hamba Engkau, hamba telah menjadi tiada dalam Engkau dan keduaan pun lenyaplah.
Danarto
* Sastrawan yang banyak mempelajari sufisme
Sumber Tulisan: majalah.tempointeraktif.com.
Keterangan Rinci:
Judul Buku: Musyawarah Burung
Judul Asli: Mantiqu’t-Thair 
Pengarang: Faridu’d-Din Attar
Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott) oleh Hartojo Andangdjaja
Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Jalan Kramat 11. No. 31 A, Jakarta Pusat
Anggota IKAPI
Cetakan pertama: 1983
Catatan:

Kagum


aku,bukanlah penyair,
aku,bukan orang yang punya kumpulan kata puitis..
tapi aku juga bukan Munafik yang acuh pada sebuah keindahan..
pesonamu,manismu,indahmu yang terwakilkan oleh banyak ungkapan manis di dunia..tak bisa buatku bisa ucapkan sepenggal kata,untuk sekedar memuji di hadapanmu..
biarlah hanya bisa ku pandang,ku nikmati dari kejauhan,
biarpun tak bisa memiliki…
kumpulan kata dari ku,Pengagummu…

Senin, 05 Desember 2011

http://www.puisipuisi.com/puisi-kagum.html

Gunung Lawu

Pendakian

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.
Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.
Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.
Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.
Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.
Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.
Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).
Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula.
Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.

Misteri gunung Lawu

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Legenda gunung Lawu

erita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putraRaden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.
Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Obyek wisata

Obyek wisata di sekitar gunung Lawu antara lain: